Skip to main content

Posts

Sepenggal Lahan: Dongeng Sebelum Tidur yang Membuat Tidur Tidak Nyenyak

Tidak terbayang oleh bu Sukri, orangtua tunggal dari tigak anak yang semuanya berusia di bawah sepuluh tahun, bahwa lahan yang diwariskan oleh mendiang suaminya menjadi sebuah terror justru setelah surat-suratnya ia bereskan. Ia mengikuti anjuran kepala desa, yang mengatakan pentingnya kepastian hukum kepemilikan atas lahan dengan memiliki sertifikat.

Naif atau Pura-pura Bodoh: PBB dan Planet Bumi

Pada perayaan ulang tahun Badan PBB untuk Program Lingkungan Hidup (UNEP) ke-40 dicanangkan gerakan global penanganan masalah lingkungan hidup dari mulai bahan kimia beracun hingga perubahan iklim lewat pemajuan dan penggalakan ilmu pengetahuan atau sains. Ini sungguh sebuah pameran kenaifan atau sandiwara yang menganggap warga planet ini bodoh?

RUU Liberalisasi Perdagangan

Saya sangat geram membaca naskah akademik RUU Perdagangan yang saat ini sedang dibahas DPR. Oleh Revrisond Baswir | Kompas | 14 Februari 2013

90 km dalam 12 Jam

Di jaman internet, di jaman ketika semua kebutuhan hidup dipenuhi dengan sekali tekan tombol pada telepon genggam pintar, saya harus menempuh serentang jalan sepanjang 90 km dalam waktu 12 jam! Kecepatan rata-rata mobil sewaan yang saya tumpangi menempuh perjalanan dari Polewali ke Mamasa adalah 7 km/jam! Inilah lelucon Indonesia yang paling tidak lucu di era demokratisasi, era desentralistik, era pemekaran wilayah administrasi, era percepatan dan perluasan pertumbuhan ekonomi, serta era industrialisasi politik, pendidikan dan kesehatan….

Ini Soal Ciprat, Bukan Citra, Apalagi Cita dan Cipta

Melongok ke belakang, penampilan gagah Soekarno bergandengan dengan pemimpin-pemimpin negara bekas jajahan di Asia, Pasifik, Afrika, dan belahan tengah dan selatan benua Amerika, mengusung KTT Non Blok dan Konferensi Asia Afrika, merupakan panggung pencitraan kolosal yang mampu menyibukkan dinas telik sandi Amerika Serikat dan Inggris. Pagelaran akbar itu sempat mengganggu agenda dan proses fabrikasi demokrasi kapitalistik saat itu. Jauh berbeda dibanding pencitraan masa kini yang tak beranjak dari pupur dan gincu murahan.

Di Atas Kereta Api dari Surakarta ke Surabaya

Petualangan semasa bujangan dibandingkan dengan saat ini, ayah dari dua perjaka, punya makna berbeda. Entah bagaimana kuat sekali usaha agar petualangan masa bujangan yang penuh derita tidak terulang pada kedua perjaka saya. Yang saya bagi hanya kenangan verbal dan visual lewat napak-tilas tempat-tempat yang pernah saya kunjungi dahulu. Teori tentang peak experience-nya Colin Mortlock yang saya anut tidak berlaku ketika berurusan dengan anak sendiri.

Cina, Barat, Kapitalisme, Demokrasi: Runtuhnya Berhala tentang Kemakmuran

Buku terbaru Loretta Napoleoni, "Maonomics: Why Chinese Communists Make Better Capitalists Than We Do," meneguhkan semua dugaan, kecurigaan, dan spekulasi yang membayangi kegelisahan sepanjang dua dekade terakhir: Apakah Indonesia punya masa depan seperti yang dicita-citakan para pendiri negara; sesuai harapan warga kebanyakan yang tak putus dirundung krisis?