Skip to main content

Posts

Pesta Demokrasi, Pesta Rakyat? Bah!

Mencermati politik baku caci, baku hujat dan baku tikam yang dipertontonkan pada Road To DKI1 , jargon-jargon kosong yang digelontorkan para Pasangan Calon pada setiap kesempatan tidak lebih dari kalimat-kalimat sampah yang dipaksakan sebagai argumen tentang kepemimpinan. Campur aduk konteks kepemimpinan ( leadership ) dengan kemampuan mengelola ( management ) yang agaknya tidak dipahami oleh para Pasangan Calon serta rombongan pendukung masing-masing, menunjukkan kebangkrutan politik Indonesia. Kesempatan besar perombakan besar-besaran melalui Reformasi sudah lama terlewat. Bongkar pasang aturan, prosedur dan tata-kerja politik dan birokrasi yang didorong seperti halnya Ledakan Dahsyat ( Big Bang ) saat itu, sama sekali tidak menyisakan bekas atau ampas-ampasnya saat ini. Indonesia saat ini berada pada situasi mirip ketika sekelompok kera di hutan berproses memilih pemimpin mereka.

Skandal Vaksin Palsu: Ketidakpedulian Tingkat Super!

Sudah lama saya tidak menulis di blog ini. Ketika berita tentang vaksin palsu membanjir kemarahan luar biasa mesti disalurkan. Karena menurut saya ini adalah tingkat ketidakpedulian terhadap keselamatan sesama, terutama generasi masa depan, pada derajat yang luar biasa, skala kolosal atas nama uang! Selain pelaku pemalsuan dan jejaring pengedarnya, pihak yang juga sangat bertanggungjawab adalah pengurus Negara. Karena biang kerok lahirnya warga yang dibutakan oleh uang sehingga tega mengorbankan keselamatan sesama adalah akibat langsung dan tidak langsung dari pilihan orientasi para pemimpin dan elit pengurus Negara yang memuja pertumbuhan ekonomi dan mengabdi pada pasar!

Kerenya Bangsaku: Hanya di Mafia Sepakbola? Saya Kira Semua Hal

Menonton penggalan wawancara Aiman Wicaksono dengan pelaku suap dan pengaturan pertandingan sepakbola di Kompas TV memang membuat darah mendidih. Ada sepotong kalimat yang harusnya membuat kita semua merenung tentang diri kita, sebagai perseorangan, sebagai warganegara dari Republik Indonesia, sebagai warga bangsa Indonesia yang katanya adalah bangsa yang besar. "Mengapa bandar-bandar judi dari Malaysia, Singapura dan negara lain memilih Indonesia dan PSSI sebagai arena permainan mereka?" Tanya Aiman. Si pelaku menjawab, "Karena menurut mereka orang Indonesia itu bodoh dan rakus. Mereka maunya uang. Gampang dipermainkan."

Republik Jegal, Jagal, dan Begal: Hidup Cuma Urusan Jegal Menjegal

Jika Anda ingin berkarir di dunia politik ada syarat fundamental yang harus dimiliki: Punya koleksi kartu truf orang yang berpotensi bergesekan dengan kepentingan Anda! Koleksi itu harus bertumbuh terus jika tidak ingin Anda jatuh atau disingkirkan secara menyakitkan. Demikian halnya apabila Anda ingin menjadi pejabat publik melalui penugasan politikal. Agar bisa bekerja tenang mesti ditunjukkan bahasa tubuh bahwa punya kartu truf mereka yang berpeluang mengganggu kerja Anda. Bersih dan nothing to lose tidak cukup.

Kita Tanya Ulang, Apakah Demokrasi Hanya Soal Menang-Kalah?

Awalnya saya membaca sikap Prabowo dan koalisinya yang ngotot dengan hasil quick count (QC) yang dipertanyakan kredibilitasnya sebagai dinamika demokrasi. Tetapi begitu saya melihat pernyataannya di depan pers selesai bertemu SBY, saya merasakan kengerian. Ucapannya begitu kekanak-kanakkan. Segala retorika soal kenegarawanan, sikap legowo, dan ucapannya yang demokratik sirna seketika. Saya seperti merasa dia berkata, " This is my time! I can't accept other option ." Dan itu terjawab ketika saya membaca dua artikel, yang satu diterbitkan oleh Strait Times (6 Juli 2014) dan yang kedua terbit di New Mandala (10 Juli 2014) .

Revolusi Mental2: Menghadirkan Negara yang Bekerja

Pada peringatan tujuh hari meninggalnya KH Abdurahman Chudlori, di Pondok Pesantren Asrama Perguruan Islam (API), Tegalrejo, Magelang, 31 Januari 2011, KH Ahmad Mustofa Bisri atau Gus Mus, yang hadir sebagai penceramah mengatakan, reformasi politik ekonomi sosial budaya di negeri ini telah gagal. Maka harus ada perubahan cara pandang masyarakat dan sudah saatnya ada revolusi mental. Pernyataan ini jauh sebelum Joko Widodo, yang dibantu beberapa pemikir, melontarkan Revolusi Mental pada kampanyenya pada Pilpres 2014.

Memahami "Revolusi Mental" - Sulitkah?

Diskusi tentang Indonesia yang amburadul dan kere sudah berlangsung lama. Sebagian besar sepakat bahwa masalahnya terpusat pada manusia. Namun justru di situlah titik plintir kemandegan perubahan. Ketika sekelompok manusia berkumpul, baik di tingkat paling terbatas, seperti keluarga, kemudian masyarakat hingga lingkup besar, negara bangsa, maka perbedaan diantara perorangan dan kelompok terkait kuasa dalam mengendalikan orang atau kelompok lain, menimbulkan sekat-sekat kelas. Perubahan atau status quo ditentukan oleh orang-orang yang memiliki kuasa dan mampu mengendalikan kelompok orang lain. Sebagai sebuah kampanye "Revolusi Mental" yang diusung Joko Widodo memiliki dua dimensi: (a) titik berangkat untuk memulai perubahan; dan (b) lingkup terkecil untuk memulai perubahan. Titik berangkat digelegarkan sebagai sikap tauladan pemimpin. Perubahan harus dimulai dari pemimpin. Sementara lingkup terkecil yang dipengaruhi oleh sikap tauladan pemimpin dapat didorong dari diri sendir...