Skip to main content

Di Atas Kereta Api dari Surakarta ke Surabaya

Petualangan semasa bujangan dibandingkan dengan saat ini, ayah dari dua perjaka, punya makna berbeda. Entah bagaimana kuat sekali usaha agar petualangan masa bujangan yang penuh derita tidak terulang pada kedua perjaka saya. Yang saya bagi hanya kenangan verbal dan visual lewat napak-tilas tempat-tempat yang pernah saya kunjungi dahulu. Teori tentang peak experience-nya Colin Mortlock yang saya anut tidak berlaku ketika berurusan dengan anak sendiri.

DSC_0040

Istri saya mengeluh kenapa saya begitu memanjakan anak-anak, yang sesungguhnya sudah bukan lagi anak-anak, dengan memilih moda perjalanan yang 'nyaman.' Seperti saya ungkapkan sebelumnya, entah kenapa saya tidak rela anak-anak saya mengulangi derita yang pernah saya (dan juga istri saya) alami. Menurut istri saya, mereka butuh mengalami perjalanan dengan segala keterbatasan agar punya beragam rujukan siasat-siasat hidup. Saya tidak membantah kebenaran pendapatnya. Namun, sekali lagi, entah kenapa, saya tidak rela....

"Ah Papa saja yang nggak mau mengulangi masa-masa susah dulu," Ucapan si bungsu seperti menampar saya. Siapa sesungguhnya yang tidak ingin mengalaminya? Jangan-jangan ia benar, justru saya sendiri yang tidak ingin mengulangi pengalaman itu dengan bersembunyi di balik anak-anak, yang secara fisik dan mental tidak lagi dapat disebut anak-anak....

Comments

Popular posts from this blog

Perangkap Raksasa: Kekuasaan

Ribuan orang menangis di muka penjara: Mengapa dia dipenjara, sementara bajingan-bajingan lain yang sudah membangkrutkan Rakyat dan ruang hidupnya dibiarkan meraja-lela? Argumen agama pun digunakan. Argumen yang sejak dulu menjadi identitas politik elit-elit digunakan untuk beragam tujuan dan kepentingan, dari yang baik hingga yang busuk. Argumen agama digunakan secara bertingkat: Mulai dari penghinaan agama, solidaritas umat agama, hingga argumen rasis yang diselipkan secara pintar hingga orang Indonesia yang malas berpikir pun terbuai dan ikut bergabung dalam rombongan penghujatan. Dan itu semua sesungguhnya hanya bicara tentang satu hal: Siapa lebih berhak berkuasa…

Pesta Demokrasi, Pesta Rakyat? Bah!

Mencermati politik baku caci, baku hujat dan baku tikam yang dipertontonkan pada Road To DKI1, jargon-jargon kosong yang digelontorkan para Pasangan Calon pada setiap kesempatan tidak lebih dari kalimat-kalimat sampah yang dipaksakan sebagai argumen tentang kepemimpinan. Campur aduk konteks kepemimpinan (leadership) dengan kemampuan mengelola (management) yang agaknya tidak dipahami oleh para Pasangan Calon serta rombongan pendukung masing-masing, menunjukkan kebangkrutan politik Indonesia. Kesempatan besar perombakan besar-besaran melalui Reformasi sudah lama terlewat. Bongkar pasang aturan, prosedur dan tata-kerja politik dan birokrasi yang didorong seperti halnya Ledakan Dahsyat(Big Bang) saat itu, sama sekali tidak menyisakan bekas atau ampas-ampasnya saat ini. Indonesia saat ini berada pada situasi mirip ketika sekelompok kera di hutan berproses memilih pemimpin mereka.

Kemalasan, Kebodohan, Kenafsuan, Kebencian

Saya merasa nyaman menggunakan awalan ke- dan akhiran –an pada empat kata yang mewarnai Indonesia Raya mutakhir, sebagai suatu keadaan yang dirancang dengan cermat untuk merebut legitimasi mengendalikan negeri pulau-pulau ini melalui penguasaan model mentalitas warganya yang malas berpikir dan bodoh, sehingga mudah ditumbuhkan nafsu dan rasa bencinya. Ini adalah pembalikan sederhana strategi pemasaran industri moderen, dari menginginkan sesuatu menjadi alergi atau bahkan phobia terhadap sesuatu. Strategi yang sengaja dipilih karena tidak ada sesuatu yang ditawarkan kecuali menimbulkan kebencian dan phobia terhadap pihak yang diciptakan sebagai musuh dan lawan bersama.