02 January 2013

Ini Soal Ciprat, Bukan Citra, Apalagi Cita dan Cipta

Melongok ke belakang, penampilan gagah Soekarno bergandengan dengan pemimpin-pemimpin negara bekas jajahan di Asia, Pasifik, Afrika, dan belahan tengah dan selatan benua Amerika, mengusung KTT Non Blok dan Konferensi Asia Afrika, merupakan panggung pencitraan kolosal yang mampu menyibukkan dinas telik sandi Amerika Serikat dan Inggris. Pagelaran akbar itu sempat mengganggu agenda dan proses fabrikasi demokrasi kapitalistik saat itu. Jauh berbeda dibanding pencitraan masa kini yang tak beranjak dari pupur dan gincu murahan.

Koleksi bacaan yang kita rujuk tentang Indonesia periode Kemerdekaan hingga dijatuhkannya Soekarno adalah soal kegagalan ekonomik, diukur dari takaran ekonomi (neo)klasik, yang gencar dipropagandakan sebagai awal Perang Dingin. Naiknya Soeharto yang dilimpahi fasilitas Utara, yang kemudian kecipratan rejeki meroketnya harga minyak gara-gara Perang Yomkipur, didudukkan sebagai rujukan baku bagaimana negara miskin naik kelas mencapai status 'berkembang'. Sepanjang periode 70an hingga akhir 90an ambang toleransi Utara terhadap kebengisan rejim Soeharto sangat tinggi. Neraca yang digunakan adalah ekonomi, yang juga menjadi ajang eksportasi neoliberalisme Reagan-Tatcher.

Hegemoni rujukan dan bacaan tentang baku mutu ekonomi yang berbasis pada konsumsi barang dan jasa industrial didudukkan sebagai keniscayaan tanpa tanding. Bahan bacaan itu menjadi kurikulum belajar pada lembaga-lembaga persekolahan berbagai tingkatan, memproduksi tenaga trampil dan cekatan yang siap melayani pasar. Ungkapan cita-cita anak Indonesia adalah soal jenis pekerjaan, bukan gambaran keadaan yang lebih baik. Daya cipta didudukkan sebagai bakat khusus mereka yang nyeleneh dari domain fabrikasi tenaga trampil dan cekatan.

Generasi kalangan pelawan pada masa Soeharto sangat diuntungkan karena adanya sosok utuh yang harus dilawan. Pada masa sekarang yang dilawan justru sesuatu yang menjerat hingga ke sumsum tulang belakang orang per orang: Konsumerisme. Sebuah tata pemenuhan yang mengabdi pada pasar dan telah meluluhlantakkan tata produksi yang sesuai kemampuan sosial dan ruang hidup setempat. Jangan heran jika Indonesia konon merupakan negara pembelanja perangkat telepon genggam beserta ubo-rampenya yang tergolong terbesar di dunia. Belanja, belanja, belanja....

No comments:

Post a Comment