Skip to main content

Posts

Showing posts from 2013

Ini Perkara Skala – Ambisi Babi Buta dan Rusa Peka

Pertemuan singkat dengan Haji Samsudin Hatta di kantor lapangnya di Mamuju, menjadi sebuah diskusi reflektif yang luarbiasa. Meski dia seorang anggota DPRD ia tidak menampilkan sosok seorang penjaja barang kelontong, yang berbeda antara bumi dan langit antara janji di mulut dengan kualitas barang yang sesungguhnya. Ia juga tidak memamerkan sosok yang punya akses ke kekuasaan. “Saya ya tetap seorang petani. Masuk politik tentunya punya pamrih; membuka akses ke pengambilan keputusan supaya kawan-kawan petani kakao lain dapat diperbaiki kualitas hidupnya,” Ujarnya merendah. Lelaki pertengahan 40an ini secara sederhana bicara soal perubahan pada skala yang terkelola. Meski bicara tentang cita-cita yang melangit laki-laki itu tidak memamerkan ambisi dan retorika kosong; ia memberi tauladan singkat pentingnya memiliki kepekaan kelima indera menghadapi perubahan.

Hegemoni Persepsi Kapital – Melulu Soal Uang? Melulu Soal Penyediaan Bahan Mentah dan Buruh?

Mengapa elit penguasa Indonesia (dan kemungkinan besar negara-negara bekas jajahan) senantiasa menggap diri mereka sebagai negara miskin, sehingga tanpa kenal lelah terus menerus mencari sumber-sumber keuangan lewat utang dengan beragam kemasan, baik dari sumber swasta maupun negara? Persepsi ini berangkat dari pemahaman bahwa kapital hanya melulu soal keuangan. Bagaimana dengan kapital sosial, budaya, dan alam?

Ketika Bungkus Lebih Penting Ketimbang Isi

Morgan Freeman, aktor kawakan Holywood, mengritik media AS yang cenderung memberi lampu sorot ke sosok penembak massal ketimbang memberitakan rasa sakit dan pedih keluarga korban penembakan. Akibatnya orang-orang frustrasi dan terpinggirkan paham betul bagaimana menggunakan media untuk menyiarkan frustrasi mereka. Dan kejadian serupa terjadi berulang kali. Tentu tidak dapat diabaikan faktor kebebasan memiliki senjata sebagai salah satu pemungkin penting. Di Indonesia bukan orang frustrasi dan terpinggirkan yang memanfaatkan media, tetapi si rakus kuasa dan harta justru yang memanfaatkannya.

Sepenggal Lahan: Dongeng Sebelum Tidur yang Membuat Tidur Tidak Nyenyak

Tidak terbayang oleh bu Sukri, orangtua tunggal dari tigak anak yang semuanya berusia di bawah sepuluh tahun, bahwa lahan yang diwariskan oleh mendiang suaminya menjadi sebuah terror justru setelah surat-suratnya ia bereskan. Ia mengikuti anjuran kepala desa, yang mengatakan pentingnya kepastian hukum kepemilikan atas lahan dengan memiliki sertifikat.


Naif atau Pura-pura Bodoh: PBB dan Planet Bumi

Pada perayaan ulang tahun Badan PBB untuk Program Lingkungan Hidup (UNEP) ke-40 dicanangkan gerakan global penanganan masalah lingkungan hidup dari mulai bahan kimia beracun hingga perubahan iklim lewat pemajuan dan penggalakan ilmu pengetahuan atau sains. Ini sungguh sebuah pameran kenaifan atau sandiwara yang menganggap warga planet ini bodoh?


RUU Liberalisasi Perdagangan

Saya sangat geram membaca naskah akademik RUU Perdagangan yang saat ini sedang dibahas DPR.

Oleh Revrisond Baswir | Kompas | 14 Februari 2013

90 km dalam 12 Jam

Di jaman internet, di jaman ketika semua kebutuhan hidup dipenuhi dengan sekali tekan tombol pada telepon genggam pintar, saya harus menempuh serentang jalan sepanjang 90 km dalam waktu 12 jam! Kecepatan rata-rata mobil sewaan yang saya tumpangi menempuh perjalanan dari Polewali ke Mamasa adalah 7 km/jam! Inilah lelucon Indonesia yang paling tidak lucu di era demokratisasi, era desentralistik, era pemekaran wilayah administrasi, era percepatan dan perluasan pertumbuhan ekonomi, serta era industrialisasi politik, pendidikan dan kesehatan….


Ini Soal Ciprat, Bukan Citra, Apalagi Cita dan Cipta

Melongok ke belakang, penampilan gagah Soekarno bergandengan dengan pemimpin-pemimpin negara bekas jajahan di Asia, Pasifik, Afrika, dan belahan tengah dan selatan benua Amerika, mengusung KTT Non Blok dan Konferensi Asia Afrika, merupakan panggung pencitraan kolosal yang mampu menyibukkan dinas telik sandi Amerika Serikat dan Inggris. Pagelaran akbar itu sempat mengganggu agenda dan proses fabrikasi demokrasi kapitalistik saat itu. Jauh berbeda dibanding pencitraan masa kini yang tak beranjak dari pupur dan gincu murahan.

Di Atas Kereta Api dari Surakarta ke Surabaya

Petualangan semasa bujangan dibandingkan dengan saat ini, ayah dari dua perjaka, punya makna berbeda. Entah bagaimana kuat sekali usaha agar petualangan masa bujangan yang penuh derita tidak terulang pada kedua perjaka saya. Yang saya bagi hanya kenangan verbal dan visual lewat napak-tilas tempat-tempat yang pernah saya kunjungi dahulu. Teori tentang peak experience-nya Colin Mortlock yang saya anut tidak berlaku ketika berurusan dengan anak sendiri.