Skip to main content

Kemalasan, Kebodohan, Kenafsuan, Kebencian

Saya merasa nyaman menggunakan awalan ke- dan akhiran –an pada empat kata yang mewarnai Indonesia Raya mutakhir, sebagai suatu keadaan yang dirancang dengan cermat untuk merebut legitimasi mengendalikan negeri pulau-pulau ini melalui penguasaan model mentalitas warganya yang malas berpikir dan bodoh, sehingga mudah ditumbuhkan nafsu dan rasa bencinya. Ini adalah pembalikan sederhana strategi pemasaran industri moderen, dari menginginkan sesuatu menjadi alergi atau bahkan phobia terhadap sesuatu. Strategi yang sengaja dipilih karena tidak ada sesuatu yang ditawarkan kecuali menimbulkan kebencian dan phobia terhadap pihak yang diciptakan sebagai musuh dan lawan bersama.
Strategi ini seharusnya digunakan oleh mereka yang terdidik, serta memiliki akses kepada kekuasaan politik dan kapital finansial untuk membangun kebencian dan phobia warga terhadap hal-hal negatif dalam bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Tetapi strategi ini justru digunakan untuk memenangkan kepentingan diri sendiri oleh mereka yang terus bekerja keras mempertahankan status quo demi melanggengkan kenyamanan posisi mereka. Mereka sangat paham bahwa keberhasilan penjualan barang-barang industrial adalah berkat kemalasan konsumen berpikir, sehingga mereka tidak kritis terhadap hak-hak mereka. Bahkan barang-barang yang diproduksi dirancang sedemikian rupa agar mampu menimbulkan rasa keusangan (sense of obsolescence), agar konsumen membeli versi terbaru dari barang dengan fungsi yang sama. Demikian halnya dengan kekuasaan politik dan finansial, demi mengendalikan kapital-kapital sosial, kultural, dan alam (ekologik). Strategi ini meraup sukses luar biasa pada Pilpres Amerika Serikat dan Pilkada DKI.

Sulit membayangkan gagasan dan langkah solutif pada skala yang sangat besar dan tidak terkelola untuk ukuran saya, yang cuma warganegara biasa. Skala terkelola yang masuk akal dan sesuai dengan kemampuan saya mungkin adalah keluarga atau organisasi. Skala lingkungan sosial di tempat saya tinggal saja sudah cukup rumit dengan kompleksitas pola hubungan antarwarga yang mewakili beragam kepentingan dan kebutuhan. Sehingga saya mencermati pada skala dan cakupan sosial, politik dan ekonomi yang lebih besar, seperti wilayah administratif, niat baik untuk suatu pengurusan kepentingan bersama yang diselenggarakan secara tertib dan teratur tidak akan terbebas dari intaian mereka yang bernafsu mendahulukan dan memenangkan kepentingan diri. Jika perlu, kelompok itu pun akan merecoki landasan tata pengurusan kepentingan bersama dengan menyelipkan kepentingan mereka. Bisa jadi lewat campur tangan pada proses legislasi, dan bahkan sangat mungkin dengan mengambil alih tampuk kuasa penyelenggaraan pengurusan kepentingan bersama tersebut.

Apakah warga biasa, seperti daya dan Anda, tidak mungkin menghentikan operasi skala massif yang saat ini tengah dijalankan oleh mereka yang bernafsu menguasai Indonesia Raya untuk mendahulukan dan memenangkan kepentingan mereka? Mungkin bisa. Cara pertama, kita harus melawan dan berhadap-hadapan secara langsung. Sedang cara kedua, kita mesti disiplin dan rajin menjelajahi gagasan-gagasan kreatif yang asimetrik dengan modalitas yang saat ini digunakan untuk menguasai dan mengendalikan ruang dan orang.

Pada cara pertama, agaknya kita mesti rela membangun syahwat berkuasa setara dengan yang mereka miliki, agar dapat bertarung secara head-to-head. Namun kita perlu menyadari sejak awal, bahwa ketika syahwat itu sudah tumbuh, peluang kebocoran akan selalu timbul, sehingga kita pun akan menjelma seperti mereka. Kita yang awalnya berangkat dengan niat baik atas nama kepentingan bersama saya jamin akan tersesat dalam mendefinisikan kepentingan diri sendiri. Belum lagi pengaruh dari para petualang, yang selalu siap berpindah kubu sesuai hitung-hitungan untung rugi mereka. Saya sendiri sudah sejak lama memilih untuk tidak akan pernah tergiur atau bahkan terjebak dalam pusaran-pusaran syahwat kuasa cara pertama ini.

Sementara cara kedua, tidak ada pilihan lain selain untuk terus setia dan konsisten melakukan hal-hal sederhana tapi bermanfaat langsung bagi diri sendiri dan warga sekitar kita, yang tidak ada urusannya dengan gonjang-ganjing sandiwara kolosal di panggung kekuasaan politik dan finansial di skala Negara. Yang dibutuhkan pada cara kedua ini adalah sebuah niat dan kemauan untuk saling terhubung di antara prakarsa-prakarsa sederhana skala kecil-kecilan di berbagai pelosok negeri pulau-pulau ini. Keterhubungan tersebut dibangun dengan niat untuk mencari segala kemungkinan agar dapat tumbuh kemauan untuk saling menguatkan di antara pelaku prakarsa-prakarsa sederhana tersebut. Jejaring keterhubungan yang saling menguatkan ini tidak membutuhkan struktur raksasa untuk mengaturnya. Berangkat dari saling percaya, saling menghormati ragam dan perbedaan, serta niat dan kemauan untuk saling menguatkan, model mental sosok pemimpin tunggal dengan segala simbol kemegahan jadi sesuatu yang kuno dan primitif. Memang ini membutuhkan waktu dan proses yang panjang dan tidak sederhana. Tetapi dengan strategi dan langkah-langkah cerdas kita tidak perlu membangun struktur dan tata pengurusan yang tidak kita butuhkan. Jika perlu, kita menunggangi struktur yang sudah ada, dengan memberlakukan protokol keamanan yang menghindarkan kita dari mudharat struktur kekuasaan yang ada. Bagaimana peluang keberhasilannya? Wah, saya tidak tahu. Ini harus dicoba untuk dapat diketahui peluang keberhasilannya. Tetapi entah kenapa, saya begitu meyakini pendekatan ini. Dan saya tidak bisa menjelaskan alasannya…

Jakarta, 15 Mei 2017

Comments

Popular posts from this blog

Perangkap Raksasa: Kekuasaan

Ribuan orang menangis di muka penjara: Mengapa dia dipenjara, sementara bajingan-bajingan lain yang sudah membangkrutkan Rakyat dan ruang hidupnya dibiarkan meraja-lela? Argumen agama pun digunakan. Argumen yang sejak dulu menjadi identitas politik elit-elit digunakan untuk beragam tujuan dan kepentingan, dari yang baik hingga yang busuk. Argumen agama digunakan secara bertingkat: Mulai dari penghinaan agama, solidaritas umat agama, hingga argumen rasis yang diselipkan secara pintar hingga orang Indonesia yang malas berpikir pun terbuai dan ikut bergabung dalam rombongan penghujatan. Dan itu semua sesungguhnya hanya bicara tentang satu hal: Siapa lebih berhak berkuasa…

Pesta Demokrasi, Pesta Rakyat? Bah!

Mencermati politik baku caci, baku hujat dan baku tikam yang dipertontonkan pada Road To DKI1, jargon-jargon kosong yang digelontorkan para Pasangan Calon pada setiap kesempatan tidak lebih dari kalimat-kalimat sampah yang dipaksakan sebagai argumen tentang kepemimpinan. Campur aduk konteks kepemimpinan (leadership) dengan kemampuan mengelola (management) yang agaknya tidak dipahami oleh para Pasangan Calon serta rombongan pendukung masing-masing, menunjukkan kebangkrutan politik Indonesia. Kesempatan besar perombakan besar-besaran melalui Reformasi sudah lama terlewat. Bongkar pasang aturan, prosedur dan tata-kerja politik dan birokrasi yang didorong seperti halnya Ledakan Dahsyat(Big Bang) saat itu, sama sekali tidak menyisakan bekas atau ampas-ampasnya saat ini. Indonesia saat ini berada pada situasi mirip ketika sekelompok kera di hutan berproses memilih pemimpin mereka.