12 July 2014

Memahami "Revolusi Mental" - Sulitkah?

Diskusi tentang Indonesia yang amburadul dan kere sudah berlangsung lama. Sebagian besar sepakat bahwa masalahnya terpusat pada manusia. Namun justru di situlah titik plintir kemandegan perubahan. Ketika sekelompok manusia berkumpul, baik di tingkat paling terbatas, seperti keluarga, kemudian masyarakat hingga lingkup besar, negara bangsa, maka perbedaan diantara perorangan dan kelompok terkait kuasa dalam mengendalikan orang atau kelompok lain, menimbulkan sekat-sekat kelas. Perubahan atau status quo ditentukan oleh orang-orang yang memiliki kuasa dan mampu mengendalikan kelompok orang lain. Sebagai sebuah kampanye "Revolusi Mental" yang diusung Joko Widodo memiliki dua dimensi: (a) titik berangkat untuk memulai perubahan; dan (b) lingkup terkecil untuk memulai perubahan. Titik berangkat digelegarkan sebagai sikap tauladan pemimpin. Perubahan harus dimulai dari pemimpin. Sementara lingkup terkecil yang dipengaruhi oleh sikap tauladan pemimpin dapat didorong dari diri sendiri kemudian kedudukannya sebagai bagian dari satuan-satuan sosial, mulai dari keluarga, masyarakat hingga bangsa. "Revolusi Mental" adalah bacaan yang harus dibongkar, ditafsir dan dibangun-ulang secara kreatif dari beragam perspektif, bukan suatu konsep final yang tidak dapat dikritisi.

 

No comments:

Post a Comment