12 July 2014

Revolusi Mental2: Menghadirkan Negara yang Bekerja

Pada peringatan tujuh hari meninggalnya KH Abdurahman Chudlori, di Pondok Pesantren Asrama Perguruan Islam (API), Tegalrejo, Magelang, 31 Januari 2011, KH Ahmad Mustofa Bisri atau Gus Mus, yang hadir sebagai penceramah mengatakan, reformasi politik ekonomi sosial budaya di negeri ini telah gagal. Maka harus ada perubahan cara pandang masyarakat dan sudah saatnya ada revolusi mental. Pernyataan ini jauh sebelum Joko Widodo, yang dibantu beberapa pemikir, melontarkan Revolusi Mental pada kampanyenya pada Pilpres 2014.

"Mental politisi yang ditularkan pada masyarakat sudah terbentuk atas dasar kapitalisme, segala sesuatu dinilai uang. Mulai dari pejabat tinggi hingga modin semuanya mata duitan," kata Gus Mus. Negara ini, menurutnya, sistem ekonomi yang dikembangkan adalah kapitalisme. Kemudian itu juga yang mendidik masyarakat memiliki pola pikir bahwa uang adalah segala-galanya. Ini terjadi dari masa Orde Baru dan dikuatkan rezim sekarang. "Kalau tidak melakukan revolusi mental, masyarakat kita sakit semua. Pertengkaran antara sesama manusia termasuk juga politik ujung-ujungnya adalah soal uang dan tawar menawar,katanya.

Revolusi Mental pada kampanye Joko Widodo lebih berupa ajakan kepada seluruh warga negara Indonesia untuk segera dan tidak menunda-nunda melakukan perubahan sikap, perilaku dan etos kerja. Melanjutkan animasi pertama berjudul "Revolusi Mental" yang diproduksi ole ImproCommunications, diluncurkanlah "Revolusi Mental2: Menghadirkan Negara yang Bekerja." Pada animasi kedua ditekankan pada hubungan ketauladanan pemimpin dan perubahan sikap, perilaku dan etos kerja warga negara untuk menumbuhkan suatu sinergitas dalam produktifitas bangsa.

No comments:

Post a Comment